Selasa, 20 Maret 2018

Pengertian HABAIB MENURUT GUS DUR

PENGERTIAN HABAIB MENURUT GUSDUR KH Abdurahman Wahid DIAMBIL DIPENGAJIAN Ciganjur JAKARTA SELATAN Habaib atau Syarif dahulu kala disebut dengan panggilan Suna, yang dijuluki untuk Wali Songo khususnya di negara Indonesia kita ini. Habaib adalah cucu Nabi Muhammad SAW dari putri Nabi Muhammad SAW bernama Sayyidatina Fatimah. Sebagaimana yang tertera di dalam sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini: "Semua nasab itu dari laki-laki, kecuali nasab ku dari Fatimah putriku" Lalu dari hasil pernikahan Sayyidatina Fatimah dengan Sayidina Ali ra, lahirlah 2 orang putra yang bernama Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein , dan dari keduanya memiliki keturunan sampai hari kiamat. Dari garis keturunan Sayyidina Hasan yang dikenal keturunannya yaitu Tuan Syekh Abdul Qadir Al Jailani, serta dari garis keturunan Sayyidina Husein seperti yang disebut Assegaf, Al Haddad, Al Idrus, Al Atthos, Sheikh Abu Bakar dan banyak lainnya, semuanya disebut Habaib. Habaib adalah penerus mutlak dari cucu Nabi Muhammad SAW, Panas seluruh dunia diakui oleh pengetahuan rata-rata anggota Sunnah Wal Jama'ah dan lebih ditujukan kepada Imam Syafi'i, rata-ratanya berasal dari Yaman. Ilmu-Nya diterima secara luas dan diterima oleh masyarakat dunia, terutama di Indonesia. Di Hadromut (Yaman Selatan) kita mengenal Al Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad, yang bukunya banyak digunakan oleh para ilmuwan dari seluruh dunia, terutama di Indonesia. Tulisan-tulisannya yang sering kita temukan dan ketahui adalah Nasahdiniyah yang berarti nasihat agama. Begitu banyak ilmu Nabi SAW disusun oleh habaib berdasarkan Alquran dan hadis. Ketahuilah mencintai mereka para habaib adalah wajib dan haram hukumnya membenci mereka sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "Barangsiapa yang mencintai keluargaku maka wajib bersamaku di dalam surga dan barang siapa yang membenci keluargaku maka haram baginya mendapatkan syafa'atku nanti di hari kiamat" Ingatlah mereka para longib seperti bintang para ahli langit yang dilindungi dan keluarga Nabi Muhammad SAW adalah tanda keamanan bagi bangsanya, maka kita tidak aneh bila ada para habaib pengikut mereka atau pencinta mereka makin bertambah di seluruh penjuru dunia karena mereka adalah karunia yang besar untuk ummat Nabi Muhammad SAW sebagai jalan menuju ridho Allah SWT dan tidak ada jalan yang lebih baik kecuali jalannya para habaib yang mengikuti kakek moyang dia dan salaf salafnya yang memancarkan kebenarannya di bumi ini. Judul / judul habib di Arab Indonesia secara khusus dikaitkan dengan keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah AzZahra dan Ali Bin Abi Thalib. Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Fatimah binti Muhammad. Diperkirakan di Indonesia ada 1,2 juta orang yang masih hidup yang berhak mendapatkan istilah ini. Di Indonesia, habib semua memiliki nenek moyang yang berasal dari Yaman. khususnya Hadramaut. Berdasarkan catatan organisasi yang melakukan pencatatan silsilah para habib ini, Ar-Rabithah, ada sekitar 20 juta orang di seluruh dunia yang dapat menyandang gelar ini (disebut muhibbin) dari 114 marga. Hanya keturunan laki-laki yang berhak mendapatkan gelar habib. Dalam perkembangannya, terutama di kalangan komunitas Muslim di Indonesia, gelar ini tidak hanya dimiliki oleh da'i dari Yaman saja, karena warga negara telah menghormati mereka sebagai pemimpin mereka terlepas dari asal usul keturunannya karena alasan untuk menjadi orang yang saleh tidak disebabkan oleh asal-usulnya. Selain itu, pelanggaran peraturan terjadi, dengan menggambar garis keturunan matrlineal (keturunan perempuan juga berhak atas "habib" ) Meskipun akhirnya pernyataan ini hanyalah sebuah fitnah dari kaum orientalis untuk menghilangkan rasa hormat masyarakat ndonesia terhadap kaum kerabat Nabi Muhammad. Para habib sangat dihormati pada masyarakat muslim Indonesia karena dianggap sebagai tali pengetahuan yang murni, karena garis keturunannya yang langsung dari Nabi Muhammad. Kehormatan ini sangat terganggu oleh kelompok-kelompok anti-Sunnah yang menghubungkan hal ini dengan bid'ah. Habaib (jamak dari Habib) di Indonesia sangat mencerahkan dan pengetahuan tentang agama Islam. Ada banyak orang yang akhirnya memeluk Islam di tangan para Ahli Waris. Judul lain untuk habib adalah Sayyid. Syed, Sidi (Sayyidi), Wan (Ahlul Bait) dan untuk bangsawan (pemerintah) disebut Syarif / Syarifah. Para habib ditemukan di kelompok Sunni (firqoh).

Nanti pada akhirnya, Imam Mahdi akan muncul dari keturunan Nabi Muhammad sendiri (habib)

Para ulama lamaib dan ulama NU adalah satu badan jika ada perselisihan yang bukan ulama NU dan meragukan bahwa ulama NU memusuhi ekstremis asal-usulnya, asal mula "orang NU dari habaib toh ....



Organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad Saw. di Indonesia, Rabithah Alawiyah, menilai banyak terjadi salah kaprah di masyarakat terkait sebutan habib. Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith menyatakan bahwa fenomena itu perlu diluruskan.

Menurutnya, habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicintai. Adapun, habaib adalah kata jamak dari habib. Jadi tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

Keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein disebut sayyid, dan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyida Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Zen menjelaskan, di Indonesia para keturunan Rasullullah banyak yang berasal dari Husein. Maka banyak yang disebut sayyid.

Sementara keturunan-keturunan Hasan kebanyakan menjadi raja atau presiden seperti di Maroko, Jordania, dan kawasan Timur Tengah. Pertama kali ulama-ulama dari Yaman atau Hadramaut masuk ke Indonesia di beberapa daerah. Karena adanya akulturasi budaya, sebutan sayyid di Aceh berubah menjadi Said, di Sumatra Barat menjadi Sidi dan lain sebagainya.

Dia mengatakan, saat ini banyak orang yang mengaku sebagai seorang habib, padahal bukan. ‘Gelar’ habib, kata dia, tidak bisa disematkan kepada setiap sayyid. Setiap habib harus sayyid, tetapi sayyid belum tentu habib. Seorang sayyid, lanjutnya, tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah habib.

Pengakuan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, harus memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.

Dan yang paling penting, lanjutnya, adalah akhlak yang baik. Sebab, bagaimanapun keteladanan akan dilihat orang lain. Seseorang akan menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yang baik dalam tingkah lakunya. Maka, kata dia, menjadi aneh jika seseorang mengaku-ngaku dirinya adalah seorang habib.

Dari proses zaman ke zaman, orang akhirnya menamakan semua keturunan sayyid menjadi habib. “Padahal seharusnya tidak,” katanya. Artinya, kata dia, dari waktu yang cukup lama orang mengatakan mana habib dan mana yang sayyid, untuk membedakan bahwa habib adalah ulama-ulama.

Zen mencontohkan, di Jakarta ada Habib Ali bin Abdurrahman Kwitang, Habib Ali bin Husein Alatas di Cikini, Habib Abdullah bin Muchsin Alatas di Bogor dan lain-lain. Menurutnya, beberapa habib itulah sedikit contoh dari yang memang benar-benar habib dalam arti yang sebenarnya.

Seiring berjalannya waktu, lanjutnya, penyebutan habib terjadi degradasi kualitas. Panggilan habib lebih dijadikan sebagai panggilan keakraban atau panggilan kekerabatan. Sementara di sisi lain, banyak kalangan dari sayyid sendiri maupun dari kalangan habib sendiri ingin menggunakan gelar habib untuk dakwah.

“Tapi, akhirnya melenceng, mereka mentitelkan dirinya sendiri,” katanya kepada Republika saat ditemui di kantornya, Sabtu (11/10).

Saat ini, kata Zen, di seluruh dunia kurang lebih ada sekitar 68 qobilah (marga) dari keturunan Rasulullah, termasuk di Indonesia. Hanya saja, Rabithah Alawiyah masih melakukan proses pendataan secara detail berapa jumlah keturunan Nabi Muhammad yang ada di Indonesia.

“Jumlah persis kita belum tahu. Tapi estimasi kasar sekitar 1-1,5 juta orang dan saat ini proses verifikasi,” ujarnya.

Senin, 19 Maret 2018

Sifat Pecemburu Alloh

Sifat Pencemburu Allah SWT

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ، وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا، وَمَا بَطَنَ، وَلَا شَيْءَ، أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ، مِنْ اللَّهِ، وَلِذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: “Tiada siapapun yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia (SWT) melarang perbuatan dosa dan jahat, yang terang terangan atau yang tersembunyi, dan tiada siapapun yang lebih suka dipuji, selain Allah, oleh sebab itulah Dia (SWT) memuji Dzat-Nya (SWT) sendiri) (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha membuka rahasia kerajaan alam semesta dengan cahaya keindahaNnya, melimpahkan cahaya keluhuran, cahaya kemuliaan dan cahaya kasih sayangNya, dan kita sebagai manusia diberi kesempatan untuk melewati kehidupan yang sementara di dunia demi mencapai keridhaan Allah yang kekal dan abadi, untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan abadi. Allah subhanahu wata’ala menerangi jiwa hambaNya dengan iman, sehingga terang benderanglah jiwa itu sebab cahaya Allah, yang mana akan terlihatlah sifat-sifat kita yang hina yang kemudian kita siap untuk meninggalkannya, dengan cahaya tersebut terlihat dan terpisahlah antara sifat yang baik dan sifat yang buruk dalam hati kita hingga kita dapat membedakan dan dengan mudah untuk menjalankan perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang hina. Namun ketika cahaya iman dalam hati seseorang semakin gelap, maka ia semakin tidak akan dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk, sebaliknya semakin terang cahaya iman di hati seseorang maka ia akan semakin mampu membedakan antara perbuatan yang diridhai Allah subahanahu wata’ala dan perbuatan buruk yang dimurkai oleh Allah. Hal ini akan terlihat dan tampak dengan cahaya iman. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

( النور : 35 )

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS. An Nuur : 35 )

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”

Dalam menafsirkan ayat tersebut, sebagian Ulama’ menafsirkan diantara penafsirannya bahwa Allah Maha Mengasuh langit dan bumi, Allah Maha Melindungi dan Maha mengatur langit dan bumi, Allah Maha Tunggal menentukan segala kejadian di langit dan bumi, Allah Maha Mampu merubah keadaan dan Allah Mampu menerangi jiwa hamba-hamba yang beriman dengan kemuliaan dan cahaya-cahaya tuntunan para Nabi dan Rasul, yang berakhir dengan pemimpin para pembawa cahaya iman sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Allah memberinya gelar sebagai “Cahaya yang terang benderang” sebagaimana firmanNya :

وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

( الأحزاب : 46 )

“Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” ( QS. Al Ahzaab : 46 )

Maka disini dapat kita fahami ketika Allah subhanahu wata’ala menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai “Pelita yang terang benderang”, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lah cahaya Allah subhanahu wata’ala, beliau lah hamba yang menerangi alam semesta ini dengan hidayah, dengan tuntunan keluhuran dan seindah-indah budi pekerti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diantaranya beliau adalah makhluk yang paling ramah dan dermawan, makhluk yang paling sopan dan berlemah lembut dari semua makhluk Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang sering kita dengan, dimana ketika seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “sungguh aku akan celaka dan masuk akan masuk neraka”, maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersbada : “wahai Fulan, apa yang menyebabkanmu mengucapkan hal demikian?”,kemudian orang itu berkata : “Wahai Rasulullah, aku telah berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan”,maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertobatlah kepada Allah, dan engkau harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut”, maka orang tersebut berkata : “wahai Rasulullah, aku adalah seorang kuli yang miskin, untuk berpuasa selama satu bulan bagiku sangatlah berat dan tidak mampu melakukannya apalagi harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut”, . Kita ketahui bahwa tidak ada seorang pun yang lebih tegas dalam menjalankan syariat daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun kita lihat bagaimana keindahan dalam sikap ketegasan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menanggapi permasalahan orang tersebut, yang mana ketika orang yang tadi berkata bahwa ia tidak mampu melakukan puasa selama 2 bulan, lantas sebagai ganti dari puasa itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh orang tersebut untuk memberi makan 60 orang miskin, maka ia pun berkata : “Wahai Rasulullah aku adalah seorang yang miskin, untuk memberi makan keluargaku saja aku merasa sangat kesusahan, bagaimana aku harus memberi makan untuk 60 orang”,mendengar ucapan orang tersebut dan karena kasih sayang dan sifat lemah lembutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau mengambil kurma milik beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menebus dosa orang tersebut, seraya berkata : “berikanlah kurma ini kepada penduduk yang termiskin di Madinah ”, maka orang tersebut berkata : “Wahai Rasulullah, orang yang termiskin di Madinah adalah aku”,kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “jika begitu, ambillah kurma itu untukmu”. Dari sini kita ketahui bagaimana kelembutan dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik ketika di dunia atau pun kelak di akhirat. Dimana di akhirat kasih sayang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berupa syafa’at kubra, sebagaimana yang banyak teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mensyafaati sedemikian banyak orang yang telah masuk ke dalam neraka selama ia tidak menyembah kepada selain Allah selama hidup di dunia. Namun dalam hal ini masih banyak orang yang terkadang merasa bingung dan bertanya-tanya ; “siapakah yang lebih baik dan berkasih sayang, Allah subhanahu wata’ala atau nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?, Allah subhanahu wata’ala yang telah menciptakan neraka kemudian memasukkan hamba-hambaNya ke dalam neraka itu namun Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam justru mengeluarkan mereka dengan syafaat beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka dalam hal ini harus kita fahami bahwa Allah subhanahu wata’ala lah yang telah menciptakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau memiliki sifat lemah lembut serta mampu memberikan syafaat untuk manusia, maka kesemua itu adalah atas kehendak Allah subhanahu wata’ala, sebagai bentuk daripada ungkapan cinta Allah kepada hamba-hambaNya, maka cintailah Allah subhanahu wata’ala Yang memberi petunjuk dengan cahayaNya kepada siapa pun yang dikehendakiNya, semoga kita senantiasa diterangi oleh cahaya Allah dengan hidayahNya, amin. Di hari-hari terakhir ketika Rasulullah dalam keadaan sakaratul maut, diantara wasiat yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ucapkan adalah :

اَلصَّلاَةُ اَلصَّلاَةُ

“(Lakukanlah) shalat, shalat”

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلصَّلاَةُ نُوْرٌ

“ Shalat adalah cahaya “

Maka semakin seseorang banyak meninggalkan shalat, maka akan semakin gelap kehidupan bathin (sanubari) dan zhahirnya. Begitu juga semakin seseorang banyak melakukan shalat, disamping mengerjakan shalat yang fardhu ia juga melakukan shalat-shalat yang sunnah maka hal tersebut akan semakin membuat hati seseorang menjadi tenang dan bercahaya dalam masa hidupnya di dunia dan kehidupannya di akhirat. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam demikian lembut dan berkasih sayang kepada semua makhuk, namun Allah subhanahu wata’ala lebih Maha berkasih sayang, sehingga berfirman dalam hadits qudsi :

إنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“ Sesungguhnya rahmatKu (kasih sayang) mengalahkan (melebihi) kemurkaan-Ku”

Sehingga setiap satu kebaikan seseorang akan dibalas dengan sepuluh kebaikan, sedangkan satu perbuatan jelek hanya dibalas dengan satu kejelekan, maka hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah melebihi kemurkaanNya. Oleh sebab itu sesuatu yang sangat mudah didapatkan oleh seorang hamba adalah pengampunan Allah subhanahu wata’ala karena para malaikat pun memohonkan pengampunan untuk penduduk bumi, yaitu manusia. Akan tetapi hal tersebut tidak boleh diremehkan karena Allah subhanahu wata’ala juga memiliki kemurkaan.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

( الشورى : 5 )

“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. As Syuuraa: 5 )

Mengapa langit hampir terbelah? Yaitu karena gemuruh para malaikat yang berdzikir menyebut nama Allah subhanahu wat’ala dan memohonkan ampunan kepada Allah subhanahu wata’ala untuk penduduk bumi, demikian dahsyat dan hebatnya gemuruh para malaikat yang berdzikir dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk penduduk bumi, sehingga hampir membuat langit terbelah, sedangkan jika seluruh penduduk bumi semuanya berkumpul dan berdzikir maka hal itu belum mampu untuk sekedar menggeser sebuah gunung apalagi membuat langit terbelah. Dan dalam hal ini yang perlu kita ketahui bahwa para malaikat memohonkan pengampunan untuk penduduk bumi adalah atas perintah dan kehendak Allah subhanahu wata’ala karena rahmatNya terhadap hamba-hambaNya, maka apalagi hal yang menghalangi kita untuk mencintai Allah subhanahu wata’ala?!.

Sampailah pada hadits agung yang telah kita baca, dimana hadits tersebut mengundang kita untuk mencintai dan dicintai Allah subhanahu wata’ala. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa tiada yang lebih pencemburu daripada Allah subhanahu wata’ala, dan kita ketahui bahwa cemburu timbul dari rasa cinta. Sehingga dari rasa cemburu itu Allah subhanahu wata’ala mengharamkan perbuatan-perbuatan jahat baik yang zhahir atau pun yang bathin, baik perbuatan dosa yang tampak dan terlihat mata ataupun perbuatan dosa yang tidak terlihat oleh mata, sebagaimana penyakit hati seperti berprasangka buruk, sombong, iri, dengki dan lainnya maka semua itu dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala karena Allah ingin hamba-hambaNya dekat kepadaNya. Sebab jika seseorang berbuat dosa baik secara zhahir atau bathin maka hal itu akan menjauhkan seorang hamba dari Allah subhanahu wata’ala dan Allah tidak ingin hal itu terjadi, sehingga Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan jelek agar hamba-hambaNya menjauh dan meninggalkan perbuatan tersebut kemudian mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala, demikian indahnya Allah subhanahu wata’ala. Jika Allah subhanahu wata’ala tidak menyayangi hamba-hambaNya maka Allah akan membiarkan mereka berbuat apa saja, berbuat baik atau buruk. Dan Allah telah menciptakan surga dan neraka, siapa saja yang Allah kehendaki untuk masuk ke surga atau ke neraka maka hal itu mudah bagi Allah subhanahu wata’ala. Namun karena Allah subhanahu wata’ala memiliki rasa kasih sayang terhadap hamba-hambaNya, akan tetapi cinta Allah itu sering diremehkan bahkan ditolak oleh hamba namun Allah subhanahu wata’ala tidak marah dan tidak putus asa untuk tetap menanti jawaban cinta hamba-hambaNya hingga sampai pada nafas-nafas terakhir seorang hamba ketika sakaratul maut, tidak seperti makhluk sebagaimana kita ketahui ketika kita mencintai orang lain dan cinta itu tidak dijawab, maka kita akan merasa sakit hati, marah, atau bahkan menjauh darinya dan lain sebagainya, namun Allah subhanahu wata’ala akan tetap menanti jawaban cinta hamba-hambaNya. Maka gunakanlah selagi masih tersisa nafas-nafas kita untuk mencintai Allah subhanahu wata’ala, untuk merindukan Allah subhanahu wata’ala, dan mengagungkan Allah dengan menjauhi hal-hal yang hina di sisi Allah semampu kita, adapun atas perbuatan jelek yang belum mampu kita hindari maka senantiasalah memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dan kekuatan untuk menghindari hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala, serta perbanyaklah berbuat sesuatu yang diridhai Allah terlebih hal-hal yang wajib bagi kita, dan juga perbanyaklah perbuatan-perbuatan yang sunnah, karena perbuatan-perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

(هود : 114 )

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” ( QS. Huud : 114)

Dalam hadits tersebut diatas yang dimaksud bahwa “Allah subhanahu wata’ala mengharamkan perbuatan-perbuatan buruk”, sebagian ulama’ mengatakan bahwa yang dimaksud perbuatan-perbuatan buruk adalah perbuatan zina dan perbuatan yang mengakibatkan perbuatan zina, karena di masa jahiliyyah perbuatan zina tidak apa-apa dilakukan jika secara sembunyi-sembunyi, adapun jika secara terang-terangan maka termasuk hal yang buruk. Akan tetapi dalam syariat agama Islam Allah subhanahu wata’ala mengharamkan perbuatan tersebut baik secara terang-terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi. Adapun Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa pendapat yang paling kuat adalah bahwa Allah subhanahu wata’ala mengharamkan segala perbuatan jelek, karena kecemburuan Allah yang muncul sebab cintaNya kepada hamba-hambaNya. Namun jika saat ini hingga kelak ketika sakaratul maut cinta Allah itu kita tolak, bagiamana keadaan kita kelak ketika akan menghadap Allah subahanahu wata’ala, dimanakah tempat orang-orang yang menolak cinta Allah ketika di dunia?!, bagaimana wajah-wajah orang yang yang kelak ketika dipanggil: “Fulan bin Fulan maju kehadapan Allah”, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إذَا أَحَبَّ الْعَبْدُ لِقَائِي أَحْبَبْت لِقَاءَهُ وَإِذَا كَرِهَ عَبْدِي لِقَائِي كَرِهْت لِقَاءَهُ

“ Jika seorang hamba ingin (suka) dengan perjumpaanKu maka Aku juga menyukai/mencintai perjumpaannya, dan jika seorang hamba membenci perjumpaan denganKu maka Aku pun membenci perjumpaannya”

Jika seseorang yang ketika hidup di dunia ia tidak rindu kepada Allah bahkan tidak terlintas keinginan pun untuk bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala Yang telah memberinya nafas, penglihatan, pendengaran dan kenikmatan yang lainnya, sungguh betapa malunya keadaan orang tersebut kelak berada di hadapan Allah subhanahu wata’ala. 
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَلَا شَيْئَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللهِ وَلِذلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

“ Dan tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada pujian ,oleh sebab itu Dia (Allah) memuji DzatNya”

Mengapa Allah subhanahu wata’ala memuji dzatNya?, karena Allah subhanahu wata’ala memang berhak untuk dipuji, jika seorang hamba memuji Allah subhanahu wata’ala dan ia mnegetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala suka dipuji, kemudian hamba tersebut memuji Allah maka Allah akan memuliakannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan hal tersebut kepada ummat beliau supaya mereka banyak memuji Allah subhanahu wata’ala, namun bukan berarti Allah subhanahu wata’ala butuh pujian kita, tidak seperti manusia yang diantara sifat fitrah manusia adalah suka dipuji dan tidak senang dihina, meskipun bagi orang-orang yang mencapai derajat yang tinggi dari para shalihin maka bagi mereka sama saja antara dipuji atau dihina. Maka jika seseorang suka dipuji maka mungkin saja ada keinginan buruk dalam dirinya dengan pujian itu, namun jika Allah menyukai pujian maka karena Allah memang berhak untuk dipuji, dan tiada yang berhak dipuji selainNya yang telah menciptakan kerajaan alam semesta. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam megajarkan kepada kita untuk banyak memuji Allah subhanahu wata’ala. sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

اَلْحَمْدُلله تَمْلأُ الْمِيْزَانَ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لله تَمْلآنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ

“ Alhamdulillah memenuhi (memberatkan) timbangan, dan Subhanallah waalhamdulillah keduanya memenuhi ruang yang ada di langit dan bumi, dan shalat itu adalah cahaya”

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

كَلَمَتانِ خَفِيفَتَانِ على اللِّسانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ حَبيبَتَانِ عَلَى الرَّحمَن : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله العَظِيْم

“ Dua kalimat yang ringan di lidah (diucapkan), memberatkan di timbangan, dan disukai oleh Allah : “ Subhanallah wabihamdihi subhanallah al ‘azhiim”

Yang mana ucapan tersebut sangat ringan diucapkan, namun sangat bernilai di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Maka terangi hari-hari kita dengan ucapan-ucapan indah tersebut, terlebih lagi mungkin sebagian dari kita merasa kesulitan jika harus membaca Al qur’an, karena membaca Al qur’an harus dalam keadaan bersuci, jika kita tidak dalam keadaan bersuci maka haruslah terlebih dahulu berwudhu, namun untuk berdzikir tidak diharuskan bagi kita untuk berada dalam keadaan bersuci atau tidak berhadats. Disebutkan dalam sebuah riwayat Shahih Al Bukhari bahwa orang yang berdzikir mengingat Allah dalam kesendiriannya kemudian ia mengeluarkan air mata, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberinya naungan kelak di hari kiamat yang mana tiada naungan kecuali naungan Allah subhanahu wata’ala, orang yang berdzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala dalam kesendiriannya kemudian ia mengalirkan air mata. Jika kita sering bertafakkur dan mengingat Allah subhanahu wata’ala, merindukanNya Yang Maha Indah, dimana memandang Allah subhanahu wata’ala adalah merupakan kenikmatan yang terbesar. Al Imam At Thabari Ar di dalam tafsirnya menjelaskan dengan menukil sebuah riwayat yang tsiqah bahwa setelah penduduk surga masuk ke dalam surga, maka ketika itu datanglah seseorang yang membawa cahaya seperti gunung, maka mereka berkata: “siapakah orang itu?”, maka maalaikat menjawab : “ Dia adalah abu al basyar As, nabi Adam As”, maka nabi Adam As langsung menuju mimbar cahaya, kemudian datang seseorang yang membawa cahaya bagaikan gunung, dan ketika ditanya siapakah dia, maka malaikat menjawab : “Dia adalah khalilullah, Ibrahim As”, demikian seterusnya datang para nabi satu per satu, hingga kemudian datanglah seseorang yang membawa cahaya sebanyak jumlah cahaya yang dibawa oleh para nabi dan rasul, yang membawa cahaya yang paling banyak dari nabi dan para rasul sebelumnya, dan ketika ditanya Dia adalah nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin para nabi dan Rasul. Maka ketika itu para nabi dan rasul berada di mimbar-mimbar cahaya, para syuhada’ dan shalihin berada di atas dipan-dipan cahaya, dan penduduk surga yang lainnya duduk di atas lantai yang terbuat dari misk ( minyak wangi ) menjadi lantai surga, maka ketika itu Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Selamat datang para hamba-hambaKu, para tamu-tamuKu”, kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk member mereka hidangan-hidangan berupa makanan, dan minuman yang belum pernah mereka rasakan di dunia, kemudian dihembuskan kepada mereka angin yang mewangikan seluruh tubuh mereka, lalu dibagikan kepada mereka pakaian-pakaian surga yang sangat indah. Ketika itu Allah subhanahu wata’ala memerintahkan malaikat untuk membuka tabir cahaya yang menghalangi antara Allah dengan hamba-hambaNya, yang mana disebutkan oleh sebagian pendapat bahwa tabir itu adalah paduan antara kegelapan, cahaya dan air, adapun sebagian Ulama’ mengatakan jumlah tabir itu adalah 70.000, kemudian tabir itu disingkap dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :

السلام عليكم عبادي، انظروا إليّ فقد رضيت عنكم

Maka ketika itu berguncanglah surga, dan bertasbihlah seluruh malaikat, dan semua manusia tersungkur bersujud karena memandang kewibawaan dan keindahan Allah subhanahu wata’ala. Maka Allah subhanahu wata’ala berfirman :

عبادي ارفعوا رءوسكم فإنها ليست بدار عمل، ولا دار نَصَب إنما هي دار جزاء وثواب، وعزّتي وجلالي ما خلقتها إلا من أجلكم، وما من ساعة ذكرتموني فيها في دار الدنيا، إلا ذكرتكم فوق عرشي

Maka mereka pun memandang pada keindahan Allah subhanahu wata’ala…

اللهم ارزقنا النظر إلى وجهك الكريم

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.


Para pembaca sekalian, Alhamdulillah kita telah sampai pada hadits kelima hafalan hadits harian. Berikut pembahasannya.

LAFADZ HADITS

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ المُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

“Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah ketika seorang mu’min melanggar apa yang Allah larang” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari 7/45 nomor hadits (5223), Muslim 8/101 nomor hadits (2761)

PENJELASAN HADITS

Jika engkau mengatakan : “Allah punya sifat cemburu” maka sebagian orang akan menyanggah :”kenapa engkau mengatakan Allah cemburu ? berarti Allah subhanahu wa ta’ala sama dengan manusia ?”

Ketahuilah wahai saudaraku –baarakallahu fiikum- bahwa Allah punya sifat cemburu yang sesuai dengan kemuliaan-Nya. Namun sifat cemburu Allah tidak boleh disamakan dengan sifat cemburu makhluk-Nya. Sebagaimana sifat Allah yang lainnya. Kesamaan nama tidak harus menjadikan kesamaan hakikat. Jadi walaupun seorang hamba punya sifat cemburu dan Allah juga punya sifat cemburu namun hakikat dari dua sifat itu berbeda karena beda penyandarannya. Satu disandarkan kepada Allah azza wa jalla dan dan yang satu disandarkan kepada makhluk.

Hadits di atas adalah bukti Allah memiliki sifat tersebut. Sehingga tidak boleh kita menolak apa yang Allah subhanahu wa ta’ala   tetapkan untuk diri-Nya. Sebagaimana yang dituturkan oleh seorang ulama Ahlussunnah Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat tahun 1421 H/2001 M) rahimahullah: “Dalam hadits ini ada penetapan sifat cemburu bagi Allah, dan metode Ahlussunnah wal jama’ah dalam memahami hadits ini dan hadits yang lainnya, demikian pula ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allah adalah mereka menetapkan sifat Allah yang layak (sesuai dengan keagungan) bagi-Nya. Ahlussunnah mengatakan: “Sungguh Allah itu cemburu, akan tetapi kecemburuan Allah tidak sama dengan kecemburuan makhluk. Alah juga gembira, namun gembira Allah tidak sama dengan gembiranya makhuk. Allah punya sifat yang sempurna sesuai dengan (keagungan)-Nya yang tidak menyerupai sifat-sifat makhluk [Syarh Riyadhush Shalihin: 1/262].

FAIDAH HADITS

Selayaknya seorang hamba meninggalkan maksiat karena bisa menyebabkan kemarahan Allah subhanahu wa ta’ala.Allah membenci kekufuran, kefasikan, dan maksiat.Allah memiliki sifat cemburu yang sesuai dengan keagungan-Nya.Kesamaan nama tidak harus menunjukkan kesaman hakikat.Hadits ini mengajarkan sifat muraqabatullah atau merasa diawasi oleh Allah dan takut akan adzab dan siksaan-Nya jika perkara yang Allah azza wa jallalarang kita langgar.

Sumber Rujukan

Tathriz Riyadhis Shalihin, Faishal bin ‘Abdil ‘Azis an-Najdi (wafat 1376 H), Dar al-Ashimah, Riyadh.

Syarh Riyadh ash-Shalihin, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Dar al-Wathan, Riyadh, cetakan tahun 1426 H.

Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Dar thuq an-Najah, cetakan tahun 1422 H.

Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj bin Muslim (wafat th. 261 H), Dar al-Ihya at Turats al-‘Arabi, Bairut.

Bahjah an-Nadzirin Syarh Riyadh ash-Shalihin, Salim bin ‘Id al-Hilali, Dar Ibnul Jauzi, Riyadh, Cetakan tahun 1420 H/1999 M.

Sabtu, 10 Maret 2018

KISAH DUA MURID KANJENG SUNAN NGAMPEL

Kisah Mbah Soleh dan Mbah Bolong;

Mbah Soleh adalah salah satu dari murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah atau keistimewaan luar biasa. 

Salah satu karomahnya adalah makamnya ada sembilan. Sembilan makam Mbah Soleh hingga saat ini masih nampak berjajar di samping Masjid Sunan Ampel di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, Jawa Timur. 
 
Semasa hidupnya Mbah Soleh dikenal sebagai sosok yang rajin membersihkan Masjid Sunan Ampel disamping kesehariannya mengaji dan menimba ilmu keagamaan.  

Bahkan, kebiasaannya menjaga kebersihan masjid mendapat pujian banyak orang. Tidak terkecuali gurunya sendiri, Sunan Ampel.

Apabila menyapu lantai sangatlah bersih sekali sehingga orang yang sholat di masjid tanpa sajadah tidak merasa ada debunya. Mereka justru merasa seperti sholat di atas sajadah.

Ketika Mbah Soleh wafat, dia dikubur di samping halaman masjid. Namun sepeninggalannya ternyata tidak ada santri yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah Soleh yaitu menyapu lantai masjid dengan bersih sekali. 

Maka sejak ditinggal Mbah Soleh masjid itu lantainya menjadi kotor. Sehingga Kanjeng Sunan Ampel pun tiba-tiba teringat dengan muridnya itu. 

Dikisahkan, dalam kondisi seperti itu kemudian terucaplah kata-kata Kanjeng Sunan Ampel, "bila saja Mbah Soleh masih hidup, tentulah masjid ini kembali menjadi bersih".

Kemudian mendadak Mbah Soleh ada di pengimaman masjid sedang menyapu lantai. Seluruh lantai pun sekarang menjadi bersih lagi. Orang-orang pada terheran melihat Mbah Soleh hidup lagi.

Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh wafat lagi dan dikubur di samping kuburannya yang dulu. 

Lalu masjid menjadi kotor lagi, kemudian terucaplah, kata-kata Kanjeng Sunan Ampel seperti dulu. Kemudian Mbah Soleh pun hidup lagi. 

Hal ini berlangsung beberapa kali sehingga kuburannya ada delapan. Namun pada saat kuburan Mbah Soleh sudah ada delapan Kanjeng Sunan Ampel meninggalkan dunia pada 1481 M. 

Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh meninggal dunia sehingga kuburan Mbah Soleh ada sembilan. Kuburan yang terakhir berada di ujung sebelah timur.

Versi lain menyebutkan, Mbah Soleh yang telah meninggal dan dikubur, selalu kembali muncul saat yang tepat. 

Yakni saat masjid dalam keadaan kotor atau saat Kanjeng Sunan Ampel berharap ada sosok Mbah Soleh. Kebiasaan membersihkan masjid selalu dilakukan oleh sosok serupa Mbah Soleh.

Namun, seiring waktu, sosok Mbah Soleh itu pun meninggal. Dan anehnya, kejadian sosok dengan kebiasaan sama itu terus berulang. Terus terulang hingga sembilan kali meninggal. Hingga Kanjeng Sunan Ampel meninggal dunia.

Di sekitar makam Mbah Soleh tersebut, banyak ditumbuhi rumput-rumput kecil. Ternyata, sebagai murid  Kanjeng Sunan Ampel ini juga memiliki karomah tersendiri.
 
Suatu ketika ada peziarah yang datang dari Pasuruan. Dia mengaku diberitahu oleh seseorang untuk berziarah ke makam Mbah Soleh dan mengambil rumput di makam tersebut.

"Katanya dia punya anak yang menderita penyakit susah bicara alias gagu. Dia disarankan oleh seorang Kyai untuk ziarah ke makam Mbah Soleh kemudian mencabut rumput di atas makam itu kemudian diberikan kepada anaknya untuk dimakan. Dan ternyata penyakit Gagu-nya itu sembuh," ungkap M Baidowi Muri, Pembantu Takmir Masjid Ampel, Surabaya.

Terlepas dari itu semua, warga menyakini sesuatu yang tumbuh di sekitar makam Mbah Soleh memiliki karomah kewalian.  

Sebab, setiap hari makam tersebut tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dan berdo'a di makam tersebut.

Penulis ingin sedikit meluruskan;
Dengan ketauhid-tan kita kepada Dzat Yang Maha Meliputi Segala sesuatu.

"Yang jelas datang ke makam Kanjeng Sunan Ampel atau makam keramat siapa pun. Mintalah kepada Alloh SWT, baik Kanjeng Sunan Ampel maupun Mbah Soleh atau siapapun hanya sebuah antara agar doa itu terkabul. Katakanlah hanya wasilah meng-aminkan do'a kita sehingga di ijabah oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Karena kesucian dan kebersihan jiwa-jiwa para pendahulu kita. Adapun jika jiwa bathin kita juga telah mencapai kesucian bathin hingga tiada penyekat antara kita dengan Alloh. Maka do'a-do'a kita akan selalu di ijabah oleh Alloh SWT."

Lanjut cerita;
Menurut Baidowi siapa sebenarnya Mbah Soleh, dari mana asalnya hingga kapan lahirnya tidak ada catatan. Yang jelas, kata dia, Mbah Soleh ini adalah salah seorang murid Kanjeng Sunan Ampel. 

Pada tiap bulan Ramadhan selalu banyak peziarah yang berdo'a di makamnya disamping ke makam Kanjeng Sunan Ampel. 

Kisah Mbah Bolong

Masjid Agung Sunan Ampel yang terletak di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya menyimpan sejumlah cerita menarik mengenai para pendirinya. Salah satunya adalah Mbah Shonhaji atau sering disebut Mbah Bolong. 

Gelar ini bukannya sekadar sebuah olok-olokan karena Shonhaji yang merupakan salah seorang murid Sunan Ampel ternyata mempunyai karomah luar biasa. 

Berdasarkan beberapa literatur Shonhaji berasal dari Hadra Maut, Yaman. Dari negeri Yaman, Sonhaji berangkat ke tanah Jawa pada 1417 M bersama beberapa saudaranya yang sesama Habaib, seperti Syayyid Robbinur, Syayyid Ahmad Faqih (Mbah Kaliagung–Tirem – Gresik), Syayyid Silbani (Wales–Blado), Syayyid Laduni (Kebagusan–Jeporo). 

Keberangkatan mereka ke tanah Jawa atas petunjuk Syayyid Abdulmajid yang mendapat petunjuk dari Alloh, agar mereka berguru kepada Syayyid Ali Rohmatulloh atau Sunan Ampel di Padepokan Ampel Delta, Surabaya. 

Karomah yang dimiliki Shonhaji terlihat saat pembangunan Masjid Agung Sunan Ampel. Di mana Masjid yang dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan China ini selesai dirampungkan pada 1421 M.
 
Oleh Kanjeng Sunan Ampel, Shonhaji yang pernah menjadi nakhoda kapal ini ditugasi mengatur letak pengimamannya dan arah kiblat Masjid Sunan Ampel. 

Karena sebagai Mahtrus (Nahkoda) Shonhaji sangat mungkin memahami ilmu perbintangan dan ilmu falak (ijtihat), termasuk tidak sulit menentukan arah kiblat.

Sesuai perintah Kanjeng Sunan Ampel gurunya, Shonhaji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan jangan sampai letak pengimaman itu tidak menghadap ke arah kiblat. 

Tapi konon setelah bangunan Masjid itu telah selesai, banyak orang yang meragukannya termasuk gurunya sendiri Kanjeng Sunan Ampel. 
 

“Apa betul letak pengimaman Masjid ini menghadap ke arah kiblat?" demikian tanya orang yang meragukan pekerjaan Shonhaji. 

Namun Shonhaji tidak marah atas semua perlakuan orang yang merendahkannya. Shonhaji tidak menjawab melainkan melubangi dinding Masjid sebelah barat dengan jarinya sendiri lalu berkata. 

"Lihatlah ke dalam lubang ini, kalian akan tahu apakah pengimaman ini sudah menghadap kiblat atau belum?". 

Lalu orang-orang itu pun segera melihat ke dalam lubang yang dibuat Shonhaji. Subhanalloh, ternyata di dalam lubang itu mereka dapat melihat Ka'bah yang ada di Kota Mekkah. Orang-orang pun mulai kagum. 

Sejak itu mereka tidak berani menganggap remeh pada Shonhaji dan kemudian pemuda ini mendapat julukan Mbah Bolong. Makam Shonhaji atau Mbah Bolong ini terletak di muka Masjid Agung Sunan Ampel.

Sejumlah pejiarah di Makam Mbah Bolong juga menyakini dengan bertawassul (berkirim Al Fatihah) ke Mbah Shonhaji, jika memiliki anak yang bandel, maka tidak akan bandel lagi.

Demikian ulasan singkat cerita tentang sosok Mbah Soleh dan Mbah Bolong. Semoga dapat memberikan manfaat kepada pembaca sekalian yang semoga di rahmati dan di cintai Alloh.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber.
- okezone
- siagaindonesia
- kisah-kisahwalisongo

Penyunting: Jadmiko

KISAH ABDUL GHOFFAR MENGHANCURKAN ISLAM INDONESIA

Cristian Snouck Hurgronje adalah pengabdi setia kolonial Belanda, dia seorang ahli politik imperalis dan seorang orientalis Kristen yang tidak percaya Tuhan. Dia di tugaskan khusus untuk mempelajari Islam sebagai modal utama menghancurkan Islam khususnya di Indonesia.

Dia sangat fasih berbahasa Arab, dengan intelektual dan keramahannya, dia di terima di kalangan Ulama di Jeddah untuk menimba ilmu. Sampai pada akhirnya dia berhasil menghafal Al Qur'an, Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik dan Futhul Mu'in hingga dia mendapatkan nama Islam sebagai Abdul Ghoffar.

Misi dan tugas pertamanya pada saat itu adalah menghancurkan Islam di Aceh, hingga rakyat Aceh pada saat itu mengecapnya sebagai penghkianat! Dia berhasil berkhotbah Jum'at dalam bahasa Arab yang mengandung do'a untuk kesejahteraan Ratu Belanda Wilhelmina yang di kenal oleh rakyat Aceh pada saat itu sebagai "khotbah penjilat".

Bagi kolonial Belanda dialah pahlawan besar, yang berhasil menjalankan tugasnya memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik. Untuk kesetiaan dan loyalitasnya kepada kolonial Belanda, dia sampai dianugerahi "Bintang Salib Singa Belanda" .

Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck pada perkembangan hidup dan kejiwaannya.

Snouck berpendapat bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Alloh, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori “Evolusi” Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia.

Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka. Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck dalam kehidupannya.

Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah mengatakan, “Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga Muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam“. Sejak saat itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah.

*Kegagalan Snouck "Menghancurkan Islam Jawa".

Pada saat pemerintah kolonial Belanda merasa Snouck telah berhasil dan sukses menghancurkan Islam di Aceh, mereka kemudian mengutus Snouck untuk menghancurkan Islam di Jawa. Pemerintah kolonial Belanda sebelumnya mengutus Snouck untuk lebih memperdalam ilmu Islam nya.
Karena Islam di Jawa selalu melawan Belanda pada saat itu.

Sultan Hasanuddin, santri Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri Sultan Agung, santri Mbah Zaenal Mustofa, bahkan semua santri kok melawan Belanda.
Akhirnya Snouck belajar secara khusus mencari rahasia bagaimana caranya Islam Jawa ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Jawa dengan menyamarkan namanya menjadi Syekh Abdul Ghoffar yang dia dapat dari Jeddah (Mekah). Setelah dirasa ilmu Islamnya telah matang betul selama dia belajar di Arab.
Namun ternyata, setelah Syekh Abdul Ghoffar ini masuk ke Jawa, sang Syekh kebingungan mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje selama di Arab itu tidak ada.
Mencari Alloh disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada Pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah sholat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari Syaikhun, Ustadzun, tidak ketemu, ketemunya Kyai. Padahal ada nama kerbau namanya Kyai Slamet. Mencari Musholla tidak ketemu, ketemunya Langgar.
Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, namun bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.
Begitu belajar bahasa Jawa, mereka tambah bingung, semakin bingung dan stresss. Orang disini makanannya nasi (sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa Inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz. Yang disebut ruz, ketika di sawah, di Jawa namanya pari (padi). Disana di Belanda sana masih ruz, rice. Namun di Jawa, begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya si Snouck sudah mulai kucluk, (koplak).
Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahaminya sebagai ruz, rice, padahal disini (di Jawa) namanya sudah berubah dan di namai sebagai gabah. Begitu gabah di kupas disini namanya beras, disana masih ruz, rice. Begitu bukaannya cuil terbelah menjadi dua, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego atau nasi, disana masih ruz, rice.
Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upo, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, disana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, disana namanya masih ruz, rice.
Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg dan pusing. Akhirnya dia kucluk sendiri. Mempelajari Islam Jawa tidak paham-paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).
Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Jawa) oleh Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Jawa, karena kelamaan di tanah Arab.
Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah. Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.
Lha, akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.
Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rosululloh orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.
Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.
Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.
Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.
Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Al Qur'an): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai Surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para Ulama penyebar Islam. Cerita Surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.
Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya Stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.
Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.
Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.
Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra. Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa diterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.
Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. 

Kembali kepada kisah Snouck yang sudah terlancur kucluk tadi, akhirnya dia menyerah, karena dia mencari syahadad di sini tidak ada syahadad, yang ada kalimosodo. Jadi orang Jawa di anggap tidak Islam, dan tidak perlu dirusak-rusak karena sudah rusak. Padahal yang rusak alias kucluk adalah pikiran si Snouck sendiri. 


Penulis: Jadmiko

Sumber: Literatur dari berbagai sumber


Kamis, 08 Maret 2018

KAROMAH WALI MUDA AL MUKAROM AL KENTHIRI

-

-

-

Maaf, belum sempet nulis, lagian karomah bukan untuk di pamerkan...
Kalau di pamerkan, itu dimanakan istidroj syaithon. Ha ha ha ha ha...

😆😆😆✌

KAROMAH SEUCAP NYATA WALIYULLOH HABIB SHOLEH TANGGUL

DERAJAT kewalian Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid tidak diragukan lagi. Kewaliannya telah mencapai tingkatan Qutub, yakni pemimpin dan pemuka bagi para aulia di masanya. 

Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Abdurrahman Assegaf pernah berkata bahwa Habib Sholeh adalah orang yang doanya selalu terkabul dan orang yang sangat dicintai dan disegani. Blog kesayangan kita "Qolbun Salim" kali ini akan menyuguhkan kisah dan karomah Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid untuk kita jadikan i'tibar. 

Dari banyak referensi tentang karomah beliau, penulis sengaja mengambil kisahnya dari Managib Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid yang ditulis Shohibul Fadhilah Sayyidiy Al-Habib Muhammad Rafiq Al-Kaff yang dipublish pada 6 Juli 2017.

Dalam Managib tersebut diceritakan beberapa karomah dan perjalanan dakwah Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid. Habib Sholeh lahir di Korbah Ba Karman, Wadi ‘Amd, sebuah desa di Hadramaut, Yaman, pada tahun 1313 Hijriyah. Ayah beliau Habib Muhsin bin Ahmad Al-Hamid terkenal dengan sebutan Al-Bakry Al-Hamid, ulama yang sangat dihormati. Ibundanya seorang wanita salehah bernama ‘Aisyah, dari keluarga  Al-Abud Ba Umar dari Masyaikh Al-‘Amudi. 

Beliau mempelajari Alquran dari seorang guru bernama Syaikh Said Ba Mudhij, di Wadi ‘Amd. Sedangkan ilmu fiqih dan tasawuf beliau pelajari dari ayahnya Al-Habib Muhsin bin Ahmad Al-Hamid.
Pada usia 26 tahun, bertepatan tahun 1921 Masehi, Al-Habib Sholeh meninggalkan Hadramaut dan hijrah ke Indonesia ditemani Syeikh Fadli Sholeh Salim bin Ahmad Al-Asykariy. Setibanya di Indonesia, beliau singgah di Jakarta beberapa hari. 

Mendengar kedatangan Habib Sholeh, sepupu beliau Habib Muhsin bin Abdullah Al-Hamid, meminta Habib Sholeh untuk  tinggal sementara di kediamannya di Kota Lumajang. Setelah menetap beberapa hari, beliau pindah ke Tanggul, Jember, Jawa Timur. Dan akhirnya menetap di Tanggul, hingga akhir hayat beliau. 
   
Sebelum memulai dakwahnya di Jember, Habib Sholeh pernah mengasingkan diri lebih dari tiga tahun. Beliau berkhalwat dengan membaca Alqur’an, bersalawat dan berdzikir. Guru besarnya Al-Imam Al-Qutub Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mengajak beliau keluar dari khalwatnya, lalu meminta Habib Sholeh datang ke kediamannya di Kota Gresik. 

Sesampainya di rumah Al-Habib Abubakar, Habib Sholeh mendapat mandat dan ijazah dengan memakaikan jubah  imamah dan sorban hijau dari gurunya sebagai pertanda kewalian quthb (kutub) yang akan diembannya. Setelah itu, Habib Sholeh mendapat isyarat untuk datang ke Makkah dan Madinah. Usai berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, beliau kembali ke Indonesia untuk berdakwah.

Dakwah Habib Sholeh diawalinya dengan membangun musalla di tempat kediamannya. Habib Sholeh mengisinya dengan salat berjamaah dan menghidupkan Quran antara magrib dan Isya. Beliau juga memberi tausiyah dan pengajian yang membahas seputar ilmu syariat dan ilmu fiqih.

Setiap selesai salat Ashar, beliau membacakan kitab An-Nashaihud Dinniyah, karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, yang diuraikannya ke dalam bahasa keseharian masyarakat sekitar, yakni bahasa Madura.

Beberapa tahun kemudian, beliau mendapat hadiah sebidang tanah dari seorang Muhibbin (orang yang mencintai anak cucu keturunan Rasulullah SAW) yakni Haji Abdur Rasyid. Di atas tanah inilah beliau membangun masjid yang diberi nama Masjid Riyadus Shalihin dan kemudian mewakafkannya. Dakwah dan kegiatan keagamaan pun kian hidup setelah masjid ini berdiri.

Selain berdakwah di masjid, Habib Sholeh dalam kesehariannya, selalu melapangkan orang susah. Membantu orang-orang yang dililit utang, membantu fakir dan anak yatim. Jika beliau melihat gadis dan pemuda yang belum kawin, beliau mencarikan pasangan hidup dengan menawarkan seorang calon. Pernah pula dalam sehari beliau mendamaikan dua atau tiga orang yang bertikai.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Habib Sholeh tercatat sebagai pemberi semangat dengan meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Islam Surabaya. Beliau dikenal karena akhlaknya yang  mulia, tidak pernah menyakiti hati orang lain. 

Dikisahkan, suatu waktu beliau sedang berjalan bersama Habib Ali bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsyi, Kwitang, Jakarta. Beliau berkunjung ke kediaman Habib Ali di Bungur, Jakarta. Saat melintasi sebuah lapangan, beliau melihat banyak orang berkumpul melaksanakan salat Istisqa (salat minta hujan), lantaran Jakarta saat itu dilanda kemarau panjang. Tak lama kemudian, setelah Habib Sholeh menengadahkan tangannya ke langit, seraya membaca doa meminta hujan. Taklama kemudian, hujan pun turun.

Suatu ketika ada orang bertanya, "Ya Habib Sholeh, apa sih kelebihan ibadah Habib sehingga doa Habib cepat terkabul ?  Habib Sholeh menjawab, "Mau tahu rahasianya? Saya tidak pernah menaruh pispot di kepala saya."

Orang itu bertanya kembali, "Apa maksudnya, ya Habib?"

Habib Sholeh berkata, “jangan pernah pispot di kepala dalam beribadah artinya, jangan membanggakan dunia yang pada akhirnya hanya akan membuat diri kita malu. Pispot, walaupun terbuat dari emas murni yang terbaik di dunia dan bertahtakan intan berlian yang juga terbaik, kalau dibuat topi, tetap akan membuat malu. Kalau orang membangga-banggakan diri bermodalkan dunianya, lihat saja, orang itu akan terjerembab oleh dunia. Karena amal orang itu dipamer-pamerin," kata Habib Sholeh. Selain itu katanya, "Jangan melakukan dosa syirik."

Karomah Habib Sholeh 
Nama Habib Sholeh kian terkenal dan harum. Kisah-kisah yang menceritakan karamah beliau tak terhitung. Tetapi perlu dicatat, karamah hanyalah  suatu indikasi kewalian seseorang. Kelebihan itu dapat dicapai setelah  melalui proses panjang yaitu pelaksanaan ajaran Islam secara kaffah (sempurna). Dan itu dilakukan secara konsekwen dan terus menerus (istiqamah), sampai dikatakan bahwa istiqamah itu lebih mulia dari seribu karamah.

Banyak yang meyakini, Habib Sholeh Tanggul adalah seorang waliyullah yang dekat dengan Nabi Khidir (Alaihiisalam). Karena itu pula beliau terkenal dermawan, seolah apapun yang beliau miliki ingin beliau berikan kepada setiap orang yang  membutuhkannya. 

Pertemuannya dengan Nabi Khidir disebut-sebut sebagai salah satu karamah Habib Sholeh. Kala itu, layaknya pemuda keturunan Arab lainnya, orang masih memanggilnya Yik, kependekan dari kata Sayyid, yang artinya Tuan, sebuah gelar untuk keturunan Rasulullah.

Suatu ketika Yik Sholeh sedang menuju Stasiun Kereta Api Tanggul yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba seorang pengemis datang meminta uang. Habib Sholeh yang sebenarnya membawa sepuluh rupiah menjawab tidak ada, karena hanya itu yang dimiliki. 

Pengemis itupun pergi, tetapi  kemudian datang dan minta uang lagi. Karena dijawab tidak ada, ia pergi lagi, tetapi lalu datang untuk ketiga kalinya. Ketika didapati jawaban yang sama, orang itu berkata, “Yang sepuluh rupiah di saku kamu?”  seketika Yik Sholeh meresakan ada yang aneh. Lalu ia menjabat tangan  pengemis itu. Ketika berjabat tangan, jempol si pengemis terasa lembut seperti tak bertulang. 

Keadaan seperti itu, menurut beberapa kitab klasik adalah ciri fisik Nabi Khidir. Tangannya pun dipegang erat-erat oleh Yek Sholeh, sambil berkata, “Anda pasti Nabi Khidir, maka mohon  doakan saya.” Sang pengemis pun berdoa, lalu pergi sambil berpesan bahwa sebentar lagi akan datang seorang tamu. Tak lama kemudian, turun dari kereta api seorang berpakaian serba hitam meminta Yik Sholeh menunjukkan rumah Habib Sholeh. 

Karena tidak ada yang nama Habib Sholeh, dijawab tidak ada. Karena orang itu menekankan ada, Yik Sholeh menjawab, “Di daerah sini tidak ada tuan, nama Habib Sholeh. Yang ada Sholeh, saya sendiri, “Kalau begitu Anda lah yang saya cari,” jawab orang itu lalu pergi, membuat Yik Sholeh tercengang.
 Sejak peristiwa itu, rumah Habib Sholeh selalu ramai dikunjungi orang, mulai sekadar silaturrahmi, sampai minta berkah doa. Tidak hanya dari Tanggul, tetapi  juga luar Jawa bahkan luar negeri, seperti Belanda, Afrika, Cina, Malaysia, Singapura dan lain-lain. 

Dari Adam Malik Hingga Alwi Shihab
Mantan Wakil Presiden RI Adam Malik adalah satu dari sekian pejabat yang pernah sowan ke rumahnya. Satu bukti  kemasyhuran beliau apabila Habib Sholeh berkunjung ke Jakarta, penyambutannya melebihi penjemputan pejabat tinggi negara.

Saat Adam Malik menjabat Kepala Kantor Berita Antara, mengungkap keterlibatan Menlu RI Soebandrio, yang saat itu dikenal sebagai tokoh berpaham komunis. Berita-berita yang dimuat Adam Malik membuat Soebandrio dan jajarannya marah besar.

Mendapat ancaman itu, Adam Malik pun berusaha mencari perlindungan. Maka datanglah ia kepada Habib Sholeh Al-Hamid di Tanggul, Jember. Adam Malik  menceritakan latar belakang persoalannya. Mendengar pengaduan itu, Habib  Sholeh Tanggul hanya tersenyum. Beliau berkata: "Jangan takut terhadap ancamannya. Nanti kamu yang akan menggantikan kedudukannya."

Tak lama berselang, setelah Soeharto menjabat Presiden, giliran Adam Malik yang menjabat menteri luar negeri (Menlu). Apa yang pernah diucapkan Habib Sholeh Tanggul benar-benar jadi kenyataan.
Kisah serupa terjadi sekitar 30 tahun lalu. Alwi Shihab, mantan menteri  luar negeri di era Presiden KH Abdurrahman Wahid, pernah datang ke kediaman Habib Sholeh Tanggul. Pada masa itu, ia datang diantar ayahandanya. Keperluannya mohon doa restu untuk belajar luar negeri.  Tujuannya belajar ke Amerika di Harvard University.

Alwi Shihab mengutarakan apa yang menjadi masalahnya. Antara lain, ia tidak punya biaya yang cukup untuk mengurus visa dan paspor. Mendengar keluhan Alwi Shihab, Habib Sholeh Tanggul menyarankan agar Alwi Shihab mandi di dua sumur yang terdapat di sekitar kediamannya.

Alwi Shihab pun mandi mandi di dua sumur tersebut. Setelah itu, kepada Alwi Shihab, Habib Sholeh Tanggul menasehati agar datang ke Adam Malik yang saat itu menjabat Menlu. Spontan, Alwi Shihab mengatakan kekhawatirannya. Ia rakyat biasa,  bagaimana bisa bertemu dengan seorang menteri?

Mendengar keberatan Alwi Shihab, akhirnya Habib Sholeh menasehatinya agar tidak takut, seraya menyuruhnya supaya menemui Adam Malik dengan membawa surat darinya, "Bawa surat saya ini. Jangan takut pada Adam Malik, kelak kamu akan menjadi seperti Adam Malik." Kata Habib Sholeh Tanggul. Apa yang diucapkan Habib Sholeh pun menjadi kenyataan.

Itu baru sedikit kisah karomah Habib Sholeh. Sebenarnya masih banyak kisah karomah beliau yang belum diketahui publik. Waliyullah yang doanya selalu dikabul ini wafat pada hari Ahad (Minggu) 9 Syawal 1396 H, bertepatan dengan tahun 1976 M dalam usia 83 tahun. Beliau meninggalkan 6 putera-puteri, Habib Abdullah, Habib Muhammad, Syarifah Nur, Syarifah Fatimah, Habib Ali, Syarifah Khadijah. 

Setiap tahunnya pada tanggal 10 Syawal, ribuan orang tumpah ruah di sepanjang jalan menuju Masjid Riyadus Shalihin Tanggul, Jember, Jasad beliau dimakamkan di samping masjid tersebut. Banyak yang berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Air dan luar negeri untuk memperingati haul Al Habib Sholeh bin Muhsin Al  Hamid, yang lebih akrab dengan sebutan Al Habib Sholeh Tanggul.

Berikut wasiat atau ajarannya yang paling terkenal: "Hendaklah setiap kamu menjaga salat lima waktu. Jangan pernah tinggalkan salat shubuh berjamaah. Muliakan dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua. Jadilah kamu sekalian sebagai rahmat bagi seluruh alam. Berbuat baik jangan pilih kasih, kepada siapa pun dan dimana pun."
  
Sumber:
Shohibul Fadhilah Sayyidiy Al-Habib Muhammad Rafiq Al-Kaff dalam Managib Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid, dipublish 6 Juli 2017.

Sabtu, 24 Februari 2018

Ilmu Balaghah Dan Mantiq

Dasar Ilmu Balaghah

Shifat kalam yang baligh

Tanaasuq al-ashwaat (kesesuaian bunyi) : a) derajat terendahnya ialah ketiadaan tanaafur huruf, b) derajat tertingginya ialah kesesuaian antara bunyi dan makna.Tarkib lughawi yang sesuai : a) shahih (bebas dari khatha’ dan syadzdz), b) merepresentasikan makna secara efektif.Mengandung unsur-unsur imajinatif yang berkesan.
Unsur-unsur kalam :
  Madhmun = maknaSyakl = lafazhHubungan diantara keduanya ibarat jasad dengan ruh.

Definisi Ilmu Balaghah
Ilmu Balaghah ialah ilmu untuk menerapkan (mengimplementasikan) makna dalam lafazh-lafazh yang sesuai (muthabaaqah al-kalaam bi muqtadhaa al-haal).

Tujuan ilmu balaghah : mencapai efektifitas dalam komunikasi antara mutakallim dan mukhathab.

Jenis-jenis Ilmu Balaghah :
Ilmu Ma’ani : ilmu yang mempelajari susunan bahasa dari sisi penunjukan maknanya, ilmu yang mengajarkan cara menyusun kalimat agar sesuai dengan muqtadhaa al-haal.Ilmu Bayan : ilmu yang mempelajari cara-cara penggambaran imajinatif. Secara umum bentuk penggambaran imajinatif itu ada dua. Pertama, penggambaran imajinatif dengan menghubungkan dua hal. Kedua, penggambaran imajinatif dengan cara membuat metafora yang bisa diindera.Ilmu Badii’ : ilmu yang mempelajari karakter lafazh dari sisi kesesuaian bunyi atau kesesuaian makna. Kesesuaian tersebut bisa dalam bentuk keselarasan ataupun kontradiksi.
Fashahah
Berarti implementasi makna melalui lafazh-lafazh yang jelas.
Fashahah meliputi : 1) Kemudahan pelafalan. 2) Kejelasan makna (tidak gharib). 3) Ketepatan sharaf. 4) Ketepatan nahwu.
Setiap kalimat yang baliigh mesti fashiih, namun tidaklah kalimat yang fashiih itu selalu baliigh.

ILMU BAYAN

Tasybih : uslub yang menunjukkan perserikatan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam sifatnya.

Rukun-rukun atau unsur-unsurnya ialah :
1) Musyabbah : obyek yang ingin disifati
2) Musyabbah bihi : sesuatu yang dijadikan sebagai model untuk perbandingan
3) Wajh al-syibh : sifat yang terdapat dalam perbandingan
4) Aadaat al-tasybih : kata yang dipakai untuk menunjukkan adanya tasybih. Bisa berupa huruf (kaaf, ka-anna), fi’il (hasiba, zhanna, khaala, dsb), atau isim (matsal, syibh, syabiih,dsb).

Tasybih Baliigh : tasybih yang unsur-unsurnya tinggal dua saja yaitu musyabbah dan musyabbah bih.

Tasybih Tamtsili (Tasybih al-Tamtsil, Matsal) : jenis tasybih yang wajh al-syibh nya murakkab dari beberapa sifat, dan biasanya aqli.

Tasybih Dhamni : tasybih yang dipahami dari siyaq (konteks) kalimat, dan biasanya dilakukan dengan dua jumlah atau lebih sebagai ganti dari satu jumlah.

Tasybih Maqlub (Tasybih Yang Dibalik)
Asalnya, sifat yang ada pada musyabbah bih mesti lebih kuat daripada sifat pada musyabbah. Namun dalam tasybih maqlub, kondisi tersebut dibalik yakni sifat yang ada pada musyabbah lebih kuat daripada yang ada pada musyabbah bih. Pembalikan ini dilakukan untuk tujuan mubalaghah, yakni untuk menunjukkan bahwa sifat yang ada pada musyabbah sudah sangat kuat dan agar perhatian memang tertuju pada musyabbah.

Tujuan-tujuan Tasybih :
Secara umum tujuan tasybih ialah untuk menjadikan suatu sifat lebih mudah diindera. Adapun secara terperinci tujuan-tujuan tasybih ialah :
1) Bayaan miqdaar al-shifat (menjelaskan kualitas sifat)
2) Taqriir al-shifat (meneguhkan sifat)
3) Tahsiin al-musyabbah (memperindah musyabbah)
4) Taqbiih al-musyabbah (memperburuk musyabbah)
5) Tashwiir al-musyabbah bi shuurah al-thariifah
6) Itsbaat qadhiyyah al-musyabbah

Majaz : Penggunaan suatu kata dengan makna yang lain daripada maknanya yang lazim. Kebalikan dari majaz ialah haqiqah.
Majaz ada dua macam :
1) Majaz Mursal : majaz yang tidak dibangun diatas tasybih
2) Isti’arah : majaz yang dibangun diatas tasybih, atau penggunaan kata tidak dalam makna haqiqinya karena adanya hubungan keserupaan (syibh) antara makna yang dipakai tersebut dan makna haqiqinya.

Isti’arah Tashrihiyah : mengemukakan maksud musyabbah dengan menggunakan lafazh musyabbah bih, dan setiap orang mesti akan memahami bahwa maksud yang sebenarnya ialah musyabbah berdasarkan konteks kalimatnya. Dalam hal ini sang penutur menggunakan musyabbah bih dengan menghilangkan musyabbahnya. Konteks kalimat harus benar-benar menunjukkan bahwa musyabbah bih tidaklah digunakan dalam makna hakikinya, tetapi sebaliknya yakni mengandung makna musyabbah. Indikasi yang demikian ini disebut sebagai qarinah al-isti’arah.

Isti’arah Makniyah : Dalam isti’arah ini, musyabbah bih tidak muncul dengan jelas akan tetapi sedikit samar. Lafazh yang menunjukkan isti’arah dengan demikian bukanlah lafazh musyabbah bih melainkan lafazh-lafazh yang mengiringinya atau lafazh-lafazh yang menunjukkan sifat-sifatnya. Lafazh-lafazh ini dinisbatkan kepada musyabbah bih. Jadi, tasybih yang ditimbulkan bersifat mudhmar didalam pikiran.
Apabila suatu isti’arah makniyah menyerupakan sesuatu dengan manusia maka ia disebut tasykhish (personifikasi).

Kinayah : penunjukan terhadap suatu makna yang dimaksud dengan secara tidak langsung, dimana lafazh yang dipakai tidak sampai keluar dari makna haqiqinya ke makna majazinya.
Macam-macam kinayah :
1) Kinayah dari shifat
2) Kinayah dari dzat
3) Kinayah dari nisbah

ILMU MA’ANI
Asas dari jumlah ialah isnad. Jumlah terbagi dua : jumlah khabariyah dan jumlah insya-iyah.

Khabar dan Insya’
Jenis-jenis insya’ yang terpenting : amr, nahy, istifham, dan tamanniy

Tujuan-tujuan Khabar
1) Tujuan asal dan yang lazim ialah untuk memberitahu kepada mukhathab sesuatu yang belum ia ketahui.
2) Tujuan lainnya ialah ta’tsir nafsi (memberikan kesan kejiwaan) yang meliputi : ‘izhah (nasihat), sikhriyah(olok-olok), istihtsaats (membangkitkan semangat), dan madh (pujian).

Bentuk-bentuk Khabar
1) Uslub (dharb) ibtida-iy : tanpa adat ta’kid, digunakan apabila mukhathab dalam keadaan khaliy al-dzihni.
2) Uslub (dharb) thalabiy : menggunakan satu ta’kid, digunakan apabila mukhathab ragu-ragu sehingga membutuhkan penegasan.
3) Uslub (dharb) inkariy : menggunakan dua ta’kid atau lebih, digunakan jika mukhathab mungkir terhadap khabar.

Amar dan Nahy
Shighat-shighat amar : 1) F’il amar. 2) Fi’il mudhari’ yang didahului oleh laam amr. 3) Mashdar sebagai pengganti fi’il amar
Makna amar : talab al-fi’il dari otoritas yang lebih tinggi kepada otoritas yang lebih rendah.
Makna nahy : talab tark al-fi’il dari otoritas yang lebih tinggi kepada otoritas yang lebih rendah.
Namun terkadang amar dan nahy mempunyai makna lain: 1) Doa. 2) Tahqiir. 3) Tahdiid. 4) Nasihat. 5) Sikhriyyah (olok-olok)

Istifham : Adat-adatnya
1) Dua huruf : hamzah dan hal. Perbedaan antara hamzah dan hal : a) Hamzah bisa digunakan untuk menuntut penentuan pilihan. Dalam hal ini hamzah disertai dengan huruf “am” (atau). b) Pertanyaan dengan hamzah cocok jika digunakan menghadapi orang yang ragu-ragu atau mendustakan.
2) Sembilan isim : 1.Maa : menuntut definisi hakikat yang ditanyakan. 2.Man : menuntut penentuan yang ditanyakan berupa isim atau shifat yang berakal. 3.Ayyu : menuntut penentuan salah satu dari hal-hal yang di-idhafah-kan kepadanya. 4.Kam : menanyakan jumlah. 5.Kaifa : menanyakan hal (keadaan). 6.Aina : menanyakan tempat. 7.Annaa : terkadang bermakna “darimana (min aina)” dan terkadang bermakna “bagaimana (kaifa)”. 8.Mataa : menanyakan waktu. 9.Ayyaana : menanyakan waktu

Istifham : Makna-makna Yang Ditimbulkannya
Terkadang istifham bisa menimbulkan makna yang bukan makna asli istifham. Makna-makna tersebut ialah:
1) Ta’ajjub
2) Taubikh
3) Istihzaa’
4) Wa’iid
4) Tamanniy
5) Taqriir
6) Istibthaa’
7) Istihtsaats
8) Tahwiil

Tamanniy
1) Laita
2) Hal
3) La’alla
4) Lau laa
5) Lau maa

ILMU BADII’

Thibaaq wa Muqaabalah
Thibaaq : menggabungkan dua hal yang saling bertentangan dalam sebuah kalam.
Muqabalah : jenis thibaq dimana terdapat dua makna atau lebih yang diikuti (disusul) dengan lawannya secara urut.

Sajak : kesesuaian pada akhir dari hentian-hentian (waqaf) pada natsr. Dalam syi’r, yang demikian ini disebut dengan qafiyah.
Sebagian ulama tidak sepakat apabila dikatakan bahwa kebanyakan ayat Al-Qur’an merupakan sajak-sajak. Dalam hal ini mereka lebih suka menyebutnya sebagai faashilah (jamak : fawaashil). Mereka mengemukakan dua alasan :
1) Sajak itu mesti berulang-ulang sebagaimana qafiyah dalam syi’r. Sementara, apa yang terdapat dalam Al-Qur’an tidaklah seluruhnya demikian.
2) Sajak itu dibuat dengan mengalahkan makna dalam rangka kesesuaian bunyi atau lafazh. Sementara, Al-Qur’an sangat memelihara makna atau menjadikan makna sebagai hal ang terpenting diatas yang lainnya.

Jinas : keserupaan lafazh antara dua kata atau lebih tanpa disertai keserupaan makna.
Jinas ada dua : taamm dan naaqish

Tauriyah : penggunaan dua kata yang sama dengan makna yang berbeda.

Mantiq:

Definisi dan Urgensi Mantiq

Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir.

Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah.

Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru.

Sebelum kita pelajari masalah-masalah mantiq, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan “berpikir”.

Berpikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misteri (majhul atau belum diketahui) dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita (dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma’lûm (diketahui).

Faktor-Faktor Kesalahan Berpikir 1. Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar. 2. Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah mantiq yang benar.

Argumentasi (proses berpikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah bangunan. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersusun dari bahan-bahan dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu dari dua unsur itu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk dengan baik dan sempurna. Sebagai misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak zalim; maka [3] Socrates bertindak zalim”. Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan dan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbunyi “Setiap manusia bertindak zalim”, maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan”, maka “[3] manusia adalah ilmuwan”. Dua premis ini benar tetapi susunan atau formnya tidak benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti akan dijelaskan susunan argumentasi yang benar, pen).

Ilmu dan Idrak

Dua kata di atas, Ilmu dan Idrak, mempunyai makna yang sama (sinonim). Dalam ilmu mantiq, kedua kata ini menjadi bahasan yang paling penting karena membahas aspek terpenting dalam pikiran manusia, yakni ilmu. Oleh karena itu, makna ilmu sendiri perlu diperjelas. Para ahli mantiq (mantiqiyyin) mendefinisikan ilmu sebagai berikut:

Ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal). Benak atau pikiran kita tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif, yaitu ilmu dan jahil (ketidak tahuan). Pada saat keluar rumah, kita menyaksikan sebuah bangunan yang megah dan indah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut “ilmu”. Sebaliknya, sebelum menyaksikan bangunan tersebut, dalam benak kita tidak ada gambaran itu. Kondisi ini disebut “jahil”.

Pada kondisi ilmu, benak atau akal kita terkadang hanya [1] menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan, dalam misal). Terkadang kita tidak hanya menghimpun tetapi juga [2] memberikan penilaian atau hukum (judgement). (Misalnya, bangunan itu indah dan megah). Kondisi ilmu yang pertama disebut tashawwur dan yang kedua disebut tashdiq. Jadi tashawwur hanya gambaran akan sesuatu dalam benak. Sedangkan tashdiq adalah penilaian atau penetapan dengan dua ketetapan: “ya” atau “tidak/bukan”. Misalnya, “air itu dingin”, atau “air itu tidak dingin”; “manusia itu berakal”, atau “manusia itu bukan binatang” dan lain sebagainya.

Kesimpulan, ilmu dibagi menjadi dua; tashawwuri dan tashdiqi.

Dharuri dan Nadzari

Ilmu tashawwuri dan ilmu tashdiqi mempunyai dua macam: dharuri dan nadzari. Dharuri adalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran lagi (aksiomatis). Nadzari adalah ilmu yang membutuhkan pemikiran.

Lebih jelasnya, dharuri (sering juga disebut badihi) adalah ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain. Jadi Ilmu tashawwuri dharuri adalah gambaran dalam benak yang dipahami tanpa sebuah proses pemikiran. Contoh: 2 x 2 = 4; 15 x 15 = 225 atau berkumpulnya dua hal yang kontradiktif adalah mustahil (tidak mungkin terjadi) adalah hal yang dharuri. Sedangkan nadzari dapat diketahui melalui sebuah proses pemikiran atau melalui pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. (Lihat kembali definisi berpikir). Jadi ilmu tashawwuri nadzari adalah gambaran yang ada dalam benak yang dipahami melalui proses pemikiran. Contoh: bumi itu bulat adalah hal yang nadzari.

Kulli dan Juz’i

Pembahasan tentang kulli (general) dan juz’i (parsial) secara esensial sangat erat kaitannya dengan tashawwur dan juga secara aksidental berkaitan dengan tashdiq.

Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) pada beberapa benda di luar. Misalnya: gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak orang; Budi, Novel, Yani dan lainnya.

Juz’i adalah tashawwur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada satu benda saja.

Misalnya: gambaran tentang Budi hanya untuk seorang yang bernama Budi saja. Manusia dalam berkomunikasi tentang kehidupan sehari-hari menggunakan tashawwur-thasawwur yang juz’i. Misalnya: Saya kemarin ke Jakarta; Adik saya sudah mulai masuk sekolah; Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Namun, yang dipakai oleh manusia dalam kajian-kajian keilmuan adalah tashawwur-thasawwur kulli, yang sifatnya universal. Seperti: 2 x 2 = 4; Orang yang beriman adalah orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya; Setiap akibat pasti mempunyai sebab dan lain sebagainya. Dalam ilmu mantiq kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang universal), dan jarang bersangkutan dengan juz’i.

Nisab Arba’ah

Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang kulli mempunyai realita (afrad) lebih dari satu. (Lihat definisi kulli ). Kemudian antara tashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan itu sebagai “Nisab Arba’ah”. Mereka menyebutkan bahwa ada empat kategori relasi: [1] Tabâyun (diferensi), [2] Tasâwi (ekuivalensi), [3] Umum wa khusus Mutlaq (implikasi) dan [4] Umum wa Khusus Minwajhin (asosiasi).

Tabâyun adalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa diterapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. Dengan kata lain, afrad kulli yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur batu. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda dan afradnya tidak mungkin sama. Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu pasti bukan manusia.Tasâwi adalah dua tashawwur kulli yang keduanya bisa diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwurt berpikir. Artinya setiap manusia dapat berpikir dan setiap yang berpikir adalah manusia.Umum wa khusus mutlak adalah dua tashawwur kulli yang satu dapat diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain dan tidak sebaliknya. Misal: tashawwur hewan dan tashawwur manusia. Setiap manusia adalah hewan dan tidak setiap hewan adalah manusia. Afrad tashawwur hewan lebih umum dan lebih luas sehingga mencakup semua afrad tashawwur manusia.Umum wa khusus min wajhin adalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya dapat diterapkan pada sebagian afrad kulli yang lain dan sebagian lagi tidak bisa diterapkan. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur putih. Kedua tashawwur kulli ini bersatu pada seorang manusia yang putih, tetapi terkadang keduanya berpisah seperti pada orang yang hitam dan pada kapur tulis yang putih.

Hudud dan Ta’rifat

Kita sepakat bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui (majhul). Dan sesuai dengan fitrah, kita selalu ingin dan mencari tahu tentang hal-hal yang masih majhul.

Pertemuan lalu telah dibahas bahwa manusia memiliki ilmu dan pengetahuan (ma’lûm), baik tashawwuri ataupun tashdiqi. Majhul (jahil) sebagai anonim dari ma’lûm (ilmu), juga terbagi menjadi dua majhul tashawwuri dan majhul tashdiqi. Untuk mengetahui hal-hal majhul tashawwuri, kita membutuhkan ma’lûm tashaswwuri. (Lihat definisi berpikir. Pencarian majhul tashawwur dinamakan “had” atau “ta’rif”.

Had/ta’rif adalah sebuah jawaban dan keterangan yang didahului pertanyaan “Apa?”.

Saat menghadapi sesuatu yang belum kita ketahui (majhul), kita akan segara bertanya “apa itu?”. Artinya, kita bertanya tentang esensi dan hakikat sesuatu itu. Jawaban dan keterangan yang diberikan adalah had (definisi) dari sesuatu itu.

Oleh karena itu, dalam disiplin ilmu, mendefinisikan suatu materi yang akan dibahas penting sekali sebelum membahas lebih lanjut masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Perdebatan tentang sesuatu materi akan menjadi sia-sia kalau definisinya belum jelas dan disepakati. Ilmu mantiq bertugas menunjukkan cara membuat had atau definisi yang benar.

Macam-Macam Definisi (Ta’rif)

Setiap definisi bergantung pada kulli yang digunakan. Ada lima kulli yang digunakan untuk mendefinisikan majhul tashawwuri (biasa disebut “kulliyat khamsah”). Lima kulli itu adalah: [1] Nau’ (spesies), [2] jins (genius), [3] fashl (diferentia), [4] ‘aradh ‘aam (common accidens) dan [5] ‘aradh khas (proper accidens). Pembahasan tentang kulliyat khamsah ini secara detail termasuk pembahasan filsafat, bukan pembahasan mantiq.

Had Tâm, adalah definisi yang menggunakan jins dan fashl untuk menjelaskan bagian-bagian dari esensi yang majhul. Misal: Apakah manusia itu? Jawabannya adalah “Hewan yang berpikir (natiq)”. “Hewan” adalah jins manusia, dan “berpikir” adalah fashl manusia. Keduanya merupakan bagian dari esensi manusia.Had Nâqish, adalah definisi yang menggunakan jins saja. Misal: “Manusia adalah hewan”. Hewan adalah salah satu dari esensi manusia.Rasam Tâm, adalah definisi yang mengunakan ‘ardh khas. Misal: “Manusia adalah wujud yang berjalan, tegak lurus dan dapat tertawa”. “Maujud yang berjalan”, “tegak lurus” dan “tertawa” bukan bagian dari esensi manusia, tetapi hanya bagian yang eksiden.Rasam Nâqish, adalah definisi yang menggunakan ‘ardh ‘âm, misalnya, “Manusia adalah wujud yang berjalan”.

Qadhiyyah (Proposisi)

Sebagaimana yang telah kita ketahui, tashdiqi adalah penilaian dan penghukuman atas sesuatu dengan sesuatu yang lain (seperti: gunung itu indah; manusia itu bukan kera dan lain sebagainya). Atas dasar itu, tashdiq berkaitan dengan dua hal: maudhu’ dan mahmul (“gunung” sebagai maudhu’ dan “indah” sebagai mahmul). Gabungan dari dua sesuatu itu disebut qadhiyyah (proposisi).

Macam-macam Qadhiyyah

Setiap qadhiyyah terdiri dari tiga unsur: 1) mawdhu’, 2) mahmul dan 3) rabithah (hubungan antara mawdhu’ dan mahmul). Berdasarkan masing-masing unsur itu, qadhiyyah dibagi menjadi beberapa bagian.

Berdasarkan rabithah-nya, qadhiyyah dibagi menjadi dua: hamliyyah (proposisi kategoris) dan syarthiyyah (proposisi hipotesis).

Qadhiyyah hamliyyah adalah qadhiyyah yang terdiri dari mawdhu’, mahmul dan rabithah.

Lebih jelasnya, ketika kita membayangkan sesuatu, lalu kita menilai atau menetapkan atasnya sesuatu yang lain, maka sesuatu yang pertama disebut mawdhu’ dan sesuatu yang kedua dinamakan mahmul dan yang menyatukan antara keduanya adalah rabithah. Misalnya: “gunung itu indah”. “Gunung” adalah mawdhu’, “indah” adalah mahmul dan “itu” adalah rabithah (Qadhiyyah hamliyyah, proposisi kategorik)

Terkadang kita menafikan mahmul dari mawdhu’. Misalnya, “gunung itu tidak indah”. Yang pertama disebut qadhiyyah hamliyyah mujabah (afirmatif) dan yang kedua disebut qadhiyyah hamliyyah salibah (negatif).

Qadhiyyah syarthiyyah terbentuk dari dua qadhiyyah hamliyah yang dihubungkan dengan huruf syarat seperti, “jika” dan “setiap kali”.

Contoh: jika Tuhan itu banyak, maka bumi akan hancur. “Tuhan itu banyak” adalah qadhiyyah hamliyah; demikian pula “bumi akan hancur” sebuah qadhiyyah hamliyah. Kemudian keduanya dihubungkan dengan kata “jika”. Qadhiyyah yang pertama (dalam contoh, Tuhan itu banyak) disebut muqaddam dan qadhiyyah yang kedua (dalam contoh, bumi akan hancur) disebut tali.

Qadhiyyah syarthiyyah dibagi menjadi dua: muttasilah dan munfasilah. Qadhiyyah syarthiyyah yang menggabungkan antara dua qadhiyyah seperti contoh di atas disebut muttasilah, yang maksudnya bahwa adanya “keseiringan” dan “kebersamaan” antara dua qadhiyyah. Tetapi qadhiyyah syarthiyyah yang menunjukkan adanya perbedaan dan keterpisahan antara dua qadhiyyah disebut munfasilah, seperti, Bila angka itu genap, maka ia bukan ganjil. Antara angka genap dan angka ganjil tidak mungkin kumpul.

Qadhiyyah Mahshurah dan Muhmalah

Pembagian qadhiyyah berdasarkan mawdhu’-nya dibagi menjadi dua: mahshurah dan muhmalah. Mahshurah adalah qadhiyyah yang afrad (realita) mawdhu’-nya ditentukan jumlahnya (kuantitasnya) dengan menggunakan kata “semua” dan “setiap” atau “sebagian” dan “tidak semua”. Contohnya, semua manusia akan mati atau sebagian manusia pintar. Sedangkan dalam muhmalah jumlah afrad mawdhu’-nya tidak ditentukan. Contohnya, manusia akan mati, atau manusia itu pintar.

Dalam ilmu mantiq, filsafat, eksakta dan ilmu pengetahuan lainnya, qadhiyyah yang dipakai adalah qadhiyyah mahshurah.

Qadhiyyah mahshurah terkadang kulliyah (proposisi determinatif general) dan terkadang juz’iyyah (proposisi determinatif partikular) dan qadhiyyah sendiri ada yang mujabah (afirmatif) dan ada yang salibah (negatif) . Maka qadhiyyah mahshurah mempunyai empat macam:

Mujabah kulliyyah: Setiap manusia adalah hewanSalibah kulliyyah: Tidak satupun manusia yang berupa batu.Mujabah juz’iyyah: Sebagian manusia pintarSalibah juz’iyyah: Sebagian manusia bukan laki-laki.

Sebenarnya masih banyak lagi pembagian qadhiyyah baik berdasarkan mahmul-nya (qadhiyyah muhassalah dan mu’addlah), atau jihat qadhiyyah (dharuriyyah, daimah dan mumkinah) dan qadhiyyah syarthiyyah muttasilah (haqiqiyyah, maani’atul jama’ dan maani’atul khulw). Namun qadhiyyah yang paling banyak dibahas dalam ilmu filsafat, mantiq dan lainnya adalah qadhiyyah mahshurah.

Hukum-Hukum Qadhiyyah

Setelah kita ketahui definisi dan pembagian qadhiyyah, maka pembahasan berikutnya adalah hubungan antara masing-masing dari empat qadhiyyah mahshurah. Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui bahwa terdapat empat macam hubungan antara empat tashawwuri kulli: [1] tabâyun, [2] tasâwi, [3] umum wa khusus mutlak dan [4] umum wa khusus min wajhin. Demikian pula terdapat empat macam hubungan antara masing-masing empat qadhiyyah mahshurah: [1] tanaqudh, [2] tadhadd, [3] dukhul tahta tadhadd dan [4] tadakhul.

Tanaqudh (mutanaqidhain [kontradiktif]) adalah dua qadhiyyah yang mawdhu’ dan mahmul-nya sama, tetapi kuantitas (kam) dan kualitasnya (kaif) berbeda, yakni yang satu kulliyah mujabah dan yang lainnya juz’iyyah salibah. Misalnya, “Semua manusia hewan” (kulliyyah mujabah) dengan “Sebagian manusia bukan hewan” (juz’iyyah salibah).Tadhad (kontrariatif) adalah dua qadhiyah yang sama kuantitasnya (keduanya kulliyyah), tetapi yang satu mujabah dan yang lain salibah. Misalnya, “Semua manusia dapat berpikir” (kulliyyah mujabah) dengan “Tidak satupun dari manusia dapat berpikir” (kulliyyah salibah).Dukhul tahta tadhad (dakhilatain tahta tadhad [interferensif sub-kontrariatif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kuantitasnya (keduanya juz’iyyah), tetapi yang satu mujabah dan lain salibah. Misalnya: “Sebagian manusia pintar” (juz’iyyah mujabah) dengan “Sebagian manusia tidak pintar” (juz’iyyah salibah).Tadakhul (mutadakhilatain [interferensif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kualitasnya tetapi kuantitasnya berbeda. Misalnya: “Semua manusia akan mati” (kulliyyah mujabah) dengan “Sebagian manusia akan mati” (juz’iyyah mujabah) atau “Tidak satupun dari manusia akan kekal” (kulliyyah salibah) dengan “Sebagian manusia tidak kekal” (juz’iyyah salibah). Dua qadhiyyah ini disebut pula

Hukum dua qadhiyyah mutanaqidhain (kontradiktif) jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar, maka yang lainnya pasti salah. Demikian pula jika yang satu salah, maka yang lainnya benar. Artinya tidak mungkin (mustahil) keduanya benar atau keduanya salah. Dua qadhiyyah biasa dikenal dengan ijtima’ al naqidhain mustahil (kombinasi kontradiktif).

Hukum dua qadhiyyah mutadhaddain (kontrariatif), jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar, maka yang lain pasti salah. Tetapi, jika salah satu salah, maka yang lain belum tentu benar. Artinya keduanya tidak mungkin benar, tetapi keduanya mungkin salah.

Hukum dua qadhiyyah dakhlatain tahta tadhad (interferensif sub-kontrariatif), jika salah satu dari dua qadhiyyah itu salah, maka yang lain pasti benar. Tetapi, jika yang satu benar, maka yang lain belum tentu salah. Dengan kata lain, kedua qadhiyyah itu tidak mungkin salah, tetapi mungkin saja keduanya benar.

Hukum dua qadhiyyah mutadakhilatain (interferentif), berbeda dengan masalah tashawwuri. (Lihat pembahasan tentang nisab arba’ah, pen); bahwa tashawwur kulli (misalnya, manusia) lebih umum dari tashawwur juz’i (misalnya, Ali). Di sini, qadhiyyah kulliyyah lebih khusus dari qadhiyyah juz’iyyah. Artinya, jika qadhiyyah kulliyyah benar, maka qadhiyyah juz’iyyah pasti benar.

Tetapi, jika qadhiyyah juz’iyyah benar, maka qadhiyyah kulliyyah belum tentu benar. Misalnya, jika “setiap A adalah B” (qadhiyyah kulliyyah), maka pasti “sebagian A pasti B”. Tetapi jika “sebagian A adalah B”, maka belum pasti “setiap A adalah B”.

Tanaqudh

Salah satu hukum qadhiyyah yang menjadi dasar semua pembahasan mantiq dan filsafat adalah hukum tanaqudh (hukum kontradiksi). Para ahli mantiq dan filsafat menyebutkan bahwa selain mawdhu’ dan mahmul dua qadhiyyah mutanaqidhain itu harus sama, juga ada beberapa kesamaan dalam kedua qadhiyyah tersebut. Kesamaan itu terletak pada:

Kesamaan tempat (makan)Kesamaan waktu (zaman)Kesamaan kondisi (syart)Kesamaan korelasi (idhafah)Kesamaan pada sebagian atau keseluruhan (juz dan kull )Kesamaan dalam potensi dan aktual (bil quwwah dan bil fi’li). Qiyas (silogisme)

Pembahasan tentang qadhiyyah sebenarnya pendahuluan dari masalah qiyas, sebagaimana pembahasan tentang tashawwur sebagai pendahuluan dari hudud atau ta’rifat. Dan sebenarnya inti pembahasan mantiq adalah hudud dan qiyas.

Qiyas adalah kumpulan dari beberapa qadhiyyah yang berkaitan yang jika benar, maka dengan sendirinya (li dzatihi) akan menghasilkan qadhiyyah yang lain (baru).

Sebelum kita lebih lnjut membahas tentang qiyas, ada baiknya kita secara sekilas beberapa macam hujjah (argumentasi ). Manusia disaat ingin mengetahui hal-hal yang majhul, maka terdapat tiga cara untuk mengetahuinya:

Pengetahuan dari juz’i ke juz’i yang lain. Argumenatsi ini sifatnya horisontal, dari sebuah titik yang parsial ke titik parsial lainnya. Argumentasi ini disebut tamtsil (analogi).Pengetahuan dari juz’i ke kulli. Atau dengan kata lain, dari khusus ke umum (menggeneralisasi yang parsial) Argumentasi ini bersifat vertikal, dan disebut istiqra’ (induksi).Pengetahuan dari kulli ke juz’i. Atau dengan kata lain, dari umum ke khusus. Argumentasi ini disebut qiyas (silogisme).

Macam-macam Qiyas

Qiyas dibagi menjadi dua; iqtirani (silogisme kategoris) dan istitsna’i (silogisme hipotesis). Sesuai dengan definisi qiyas di atas, satu qadhiyyah atau beberapa qadhiyyah yang tidak dikaitkan antara satu dengan yang lain tidak akan menghasilkan qadhiyyah baru. Jadi untuk memberikan hasil (konklusi) diperlukan beberapa qadhiyyah yang saling berkaitan. Dan itulah yang namanya qiyas.

1. Qiyas Iqtirani

Qiyas iqtirani adalah qiyas yang mawdhu’ dan mahmul natijahnya berada secara terpisah pada dua muqaddimah. Contoh: “Kunci itu besi” dan “setiap besi akan memuai jika dipanaskan”, maka “kunci itu akan memuai jika dipanaskan”. Qiyas ini terdiri dari tiga qadhiyyah; [1] Kunci itu besi, [2] setiap besi akan memuai jika dipanaskan dan [3] kunci itu akan memuai jika dipanaskan. Qadhiyyah pertama disebut muqaddimah shugra (premis minor), qadhiyyah kedua disebut muqaddimah kubra (premis mayor) dan yang ketiga adalah natijah (konklusi).

Natijah merupakan gabungan dari mawdhu’ dan mahmul yang sudah tercantum pada dua muqaddimah, yakni, “kunci” (mawdhu’) dan “akan memuai jika dipanaskan” (mahmul). Sedangkan “besi” sebagai had awshat.

Yang paling berperan dalam qiyas adalah penghubung antara mawdhu’ muqadimah shugra dengan mahmul muqaddimah kubra. Penghubung itu disebut had awsath. Had awsath harus berada pada kedua muqaddimah (shugra dan kubra) tetapi tidak tecantum dalam natijah. (Lihat contoh, pen).

Empat Bentuk Qiyas Iqtirani

Qiyas iqtirani kalau dilihat dari letak kedudukan had awsath-nya pada muqaddimah shugra dan kubra mempunyai empat bentuk :
1. Syakl Awwal adalah Qiyas yang had awsth-nya menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdhu’ pada muqaddimah kubra. Misalnya, “Setiap Nabi itu makshum”, dan “setiap orang makshum adalah teladan yang baik”, maka “setiap nabi adalah teladan yang baik”. “Makshum” adalah had awsath, yang menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdhu’ pada muqaddimah kubra.

Syarat-syarat syakl awwal.
Syakl awwal akan menghasilkan natijah yang badihi (jelas dan pasti) jika memenuhi dua syarat berikut ini:

a. Muqaddimah shugra harus mujabah.
b. Muqaddimah kubra harus kulliyah.

2. Syakl Kedua adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mahmul pada kedua muqaddimah-nya. Misalnya, “Setiap nabi makshum”, dan “tidak satupun pendosa itu makshum”, maka “tidak satupun dari nabi itu pendosa”.

Syarat-syarat syakl kedua.

a. Kedua muqaddimah harus berbeda dalam kualitasnya (kaif, yakni mujabah dan salibah).
b. Muqaddimah kubra harus kulliyyah.

3. Syakl Ketiga adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mawdhu’ pada kedua muqaddimahnya. Misalnya, “Setiap nabi makshum”, dan “sebagian nabi adalah imam”, maka “sebagian orang makshum adalah imam”.

Syarat-syarat Syakl ketiga.

a. Muqaddimah sughra harus mujabah.
b. Salah satu dari kedua muqaddimah harus kulliyyah.

4. Syakal Keempat adalah Qiyas yang had awsath-nya menjadi mawdhu’ pada muqaddimah shugra dan menjadi mahmul pada muqaddimah kubra (kebalikan dari syakl awwal.)

Syarat-syarat Syakl keempat.

a. Kedua muqaddimahnya harus mujabah.
b. Muqaddimah shugra harus kulliyyah. Atau
c. Kedua muqaddimahnya harus berbeda kualitasnya (kaif)
d. Salah satu dari keduanya harus kulliyyah.

Catatan: Menurut para mantiqiyyin, bentuk qiyas iqtirani yang badihi (jelas sekali) adalah yang pertama sedangkan yang kedua dan ketiga membutuhkan pemikiran. Adapun yang keempat sangat sulit diterima oleh pikiran. Oleh karena itu Aristoteles sebagai penyusun mantiq yang pertama tidak mencantumkan bentuk yang keempat.

Qiyas Istitsna’i

Berbeda dengan qiyas iqtirani, qiyas ini terbentuk dari qadhiyyah syarthiyyah dan qadhiyyah hamliyyah. Misalnya, “Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat. Oleh karena dia mempunyai mukjizat, berarti dia utusan Allah”. Penjelasannya: “Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat” adalah qadhiyyah syarthiyyah yang terdiri dari muqaddam dan tali (lihat definisi qadhiyyah syarthiyyah), dan “Dia mempunyai mukjizat” adalah qadhiyyah hamliyyah. Sedangkan “maka dia mempunyai mukjizat” adalah natijah. Dinamakan istitsna’i karena terdapat kata ” tetapi”, atau “oleh karena”.

Macam-Macam Qiyas istitsna’i (silogisme) Ada empat macam qiyas istitsna’i: Muqaddam positif dan tali positif. Misalnya, “Jika Muhammad utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat. Tetapi Muhammad mempunyai mukjizat berarti Dia utusan Allah”. Muqaddam negatif dan tali positif. Misalnya, “Jika Tuhan itu tidak satu, maka bumi ini akan hancur.

Tetapi bumi tidak hancur, berarti Tuhan satu (tidak tidak satu)”. Tali negatif dan muqaddam negatif. Misalnya, “Jika Muhammad bukan nabi, maka dia tidak mempunyai mukjizat. Tetapi dia mempunyai mukjizat, berarti dia Nabi (bukan bukan nabi)”. Tali negatif dan muqaddam positif. Misalnya, “Jika Fir’aun itu Tuhan, maka dia tidak akan binasa. Tetapi dia binasa, berarti dia bukan Tuhan”.

(Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Logika “Pengantar Menuju Filsafat Islam” di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad pada tanggal 25 Oktober -1 November 1999 M)